Pembesaran Prostat Jinak / Bening Prostatic Hyperplasia (BPH)

User Rating:  / 11
PoorBest 

Pembesaran Prostat Jinak / Bening Prostatic Hyperplasia"Kencing saya lancar dok..Tapi..", inilah pernyataan yang sering keluar dari pasien-pasien yang dating kedokter spesialis urologi maupun dokter umum. Terkandang lancer itu diartikan sebagai aliran kencing yang masih dapat keluar, namun sering kali seseorang mengabaikan kualitas kencing itu. Padahal pasien tersebut mengalami penurunan kualitas kencing yang  sering kali tidak disadari dan diabaikan sampai pada akhirnya dating kedokter dalam kondisi terkomplikasi. 

Gangguan saluran kencing bagian bawah atau disebut sebagai lower urinary tract symptoms (LUTS) adalah istilah yang digunakan dalam menggambarkan keluhan dan kualitas kencing seseorang. Secara singkat, keluhan ini dibagi menjadi keluhan penyimpanan (storage/iritatif), pengeluaran (voiding/obstruktif), dan keluhan Pasca berkemih (post micturition symptom).

Keluhan storage diantaranya adalah kencing menjadi sering (frekuensi), terbangun di malam hari untuk kencing (nokturia), nyeri ketika kencing (disuria), dan tidak kuat menahan kencing (urgensi).Sementara keluhan voiding diantaranya :pancaran kencing menjadi lemah, sulit untuk mengawali kencing atau harus menunggu beberapa saat untuk kencing (hesitansi), ada perasaan tidak lampis setelah kencing, dan juga aliran yang terputus ketika kencing (intermitensi). Satu keluhan lain adalah post micturition symptom ditandai dengan adanya aliran yang menetes pada saat akhir kencing.

LUTS dapat terjadi karena adanya sumbatan saluran kencing bagian bawah (leher kandung kencing, prostat, maupun urethra) yang disebut sebagai bladder outlet obstruction (BOO).Apabila keluhan ini muncul pada pria dengan usia lebih dari 50 tahun, maka kemungkinan penyababnya adalah suatu pembesaran prostat jinak/benign prostatic hyperplasia (BPH). Hingga saat ini belum ada satu teoripun yang mampu menjelaskan secara pasti mengapa pembesaran ini dapat terjadi, namun beberapa penelitian mendapatkan adanya pengaruh proses penuaan, ketidakstabilan hormonal dan gangguan regenerasi sel menjadi penyebab pertumbuhan jaringan prostatter sebut. 

Banyak pasien bertanya kepada dokter, apakah ada pencegahan agar seorang pria tidak mengalami pembesaran prostat tersebut. Dengan berat hati saya menjawab : tidak ada. Pembesaran ini memang suatu proses alamiah dan memang berkaitan dengan penambahan usia.  Angka kejadian gangguan kencing yang diakibatkan pembesaran prostat ini meningkat seiring dengan bertambahnya usia. 50% pria dengan usia 50 tahun akan mengalami keluhan ini, semetara 90 % pria dengan usia diatas 80 tahun akan mengalami kondisi tersebut.

Apabila seseorang telah mengalami keluhan LUTS akibat BPH seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, maka sebaiknya pasien mulai berkonsultasi dengan dokter spesialis urologi. Seorang urolog akan menentukan kondisi gangguan yang terjadi melalui proses Tanya jawab untuk menentukan derajat keluhan yang terjadi, pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan colok dubur, pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan prostatic spesific antigen (PSA) yang juga merupakan pertanda keganasan prostat, dan juga pemeriksaan ultrasonografi (USG). Modalitas lain yang dapat digunakan untuk menentukan derajat sumbatan kencing akibat BPH ini diantaranya pemeriksaan uroflowmetri (tes pancaran kencing) dan urodinamik (pemeriksaan proses berkemih). Setelah diagnosis dapat ditegakkan dengan baik maka kemudian baru dapat dilakukan penanganan untuk mengatasi kelainan ini.

Beberapa alternative pengobatan dapat dilakukan sesuai dengan keluhan yang ditimbulkan. Pada pasien yang belum mengalami komplikasi, pemberian obat-obatan seperti alfa-blocker maupun 5-alpha reductaseinibitor masih dapat membantu meringankan keluhan. Namun apabila pembesaran prostat ini telah menimbulkan komplikasi seperti : tidak bias mengeluarkan kencing (retensi urine), infeksi saluran kencing berulang, batu dalam saluran kencing, divertikel kandung kencing, sampai komplikasi terburuk adalah gagal ginjal, maka pilihan pengobatan yang dapat dilakukan adalah tindakan pembedahan. Pembedahan juga diindikasikan pada penderita BPH yang telah menjalani pengobatan dengan obat-obat diatas namun tidak mengalami perbaikan keluhan.

Saat ini standar emas pembedahan untuk BPH adalah melalui metoda minimal invasif (tanpa sayatan) atau dikenal dengan nama trans urethral resection of the prostate (TURP), menggantikan metoda operasi terbuka. Metoda ini dilakukan dengan cara peneropongan (endoskopi) melalui saluran kencing, kemudan prostat akan direseksi sedikit demi sedikit sampai sumbatan yang menghalangi urine keluar dapat dibebaskan sehingga pasien dapat kencing dengan lancar. Beberapa teknik operasi minimal invasif yang dapat digunakan diantaranya Trans Urethral Needle Ablation (TUNA), Trans Urethral Microwave therapy (TUMT), High Intensity Focused Ultrasound (HIFU), namun pada metoda tersebut outcome yang dihasilkan tidak sebaik bila dibandingkan dengan metoda standar emas (TURP). Seiring dengan adanya kemajuan teknologi, beberapa teknik baru menggunakan laser dipakai dalam metoda operasi prostat. Greenlight laser, Holmium laser dan dioda laser dipakai untuk mengatasi BPH, namun karena keterbatasan kesediaan alat dan biaya yang lebih besar, saat ini laser masih belum menggantikan standar emas dalam penatalaksanaan BPH. Sementara, operasi terbuka saat ini sangat jarang dikerjakan kecuali pada prostat dengan ukuran yang sangat besar.

Jadi, setelah membaca uraian singkat ini, saya akan bertanya : "masih lancarkah kencing anda?". Anda sendiri yang bisa menjawab.

 

 

dr. Paksi Satyagraha, MKes,SpU

Rumah Sakit Panti Nirmala

Malang

Contact Us

Rumah Sakit Panti Nirmala

Jl. Kebalen Wetan No 2 -8 Malang 65134

Telp : 0341-362459, 331100

Fax : 0341-327930

Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Design by Kembud